Lintang Pandu Pratiwi Foniks Publishing
Sejak kecil, Lintang sudah jatuh cinta pada dunia buku. Perpustakaan dan toko buku adalah tempat favoritnya, dan orang tuanya turut membentuk kecintaan itu dengan menghadiahkan buku-buku cerita yang menemani masa kecilnya. Lintang kemudian menempuh pendidikan di Universitas Negeri Malang, dan mulai merintis kariernya dengan mengirimkan portofolio ilustrasi ke berbagai penerbit. Dari sana, satu per satu karyanya mulai diterbitkan, tak hanya di Indonesia, tapi juga di luar negeri. Buku pertamanya yang terbit di dalam negeri adalah Kumpulan Dongeng Klasik Indonesia, yang menjadi titik balik semangatnya untuk terus menulis dan menggambar. Ia juga menciptakan Cerita Rakyat Lembah Balim, hasil kolaborasi dengan Australian Aid dan Wahana Visi Indonesia—buku yang dibagikan gratis kepada anak-anak di Papua sebagai bagian dari upaya meningkatkan minat baca di daerah pedalaman. Di kancah internasional, Lintang menghasilkan karya seperti Honey and The Bee, Walker Hound of Park Avenue, dan Dancing Lily. Karya Honey and The Bee menjadi salah satu yang paling berkesan, dengan kisah manis tentang persahabatan antarbinatang. Perjalanan internasionalnya dimulai ketika ia mengunggah karya ilustrasinya ke platform online. Dari situlah seorang editor dan penulis dari Amerika Serikat menghubunginya dan mengajak kolaborasi. Sejak itu, proyek demi proyek terus berdatangan, termasuk dari klien yang mengetahui karyanya lewat rekomendasi mulut ke mulut. Selain aktif menulis dan menggambar, Lintang juga dikenal lewat kontribusinya di media seperti Majalah Bobo, Kompas Anak, dan Majalah Girls. Ia pernah dinobatkan sebagai salah satu dari 72 Ikon Prestasi Indonesia tahun 2017 dan termasuk dalam daftar 40 Anak Bangsa Penakluk Dunia versi Media Indonesia pada 2016. Semua itu adalah cerminan dari dedikasi dan kecintaannya terhadap dunia seni serta komitmennya untuk menghadirkan pesan-pesan positif melalui karya. Lewat bukunya yang berjudul Taman Bermain Paling Ajaib, Lintang mencoba mengenalkan pada anak-anak pentingnya mengelola emosi dengan sehat. Salah satu kisah yang ia tulis, Anak Lelaki dan Pohon Apel, mengajarkan makna dari ketekunan dan rasa syukur lewat narasi yang sederhana namun menyentuh. Lintang juga memiliki harapan besar terhadap masa depan literasi anak di Indonesia. Meskipun data dari PISA tahun 2019 menunjukkan bahwa Indonesia berada pada peringkat ke-62 dari 70 negara dalam hal literasi, ia tetap optimistis. Menurutnya, para orang tua muda kini semakin sadar akan pentingnya literasi bagi tumbuh kembang anak. Memberikan buku pada anak sejak dini tak hanya bisa menumbuhkan minat baca, tetapi juga memperkuat ikatan antara orang tua dan anak. Ia melihat bahwa dunia literasi dan ilustrasi di Indonesia sedang tumbuh pesat, bahkan di bidang komik. Banyak ilustrator Indonesia yang kini menorehkan nama di industri global, termasuk di Amerika. Lintang percaya, bangsa ini tidak kekurangan kreator berkualitas. Yang dibutuhkan hanyalah ruang, dukungan, dan kesempatan untuk terus berkarya dan didengar. Melalui Foniks Publishing dan karya-karya yang ia hasilkan, Lintang Pandu Pratiwi membuktikan bahwa seni bisa menjadi jalan untuk membangun masa depan yang lebih cerah, terutama bagi generasi muda. Dengan cinta, konsistensi, dan semangat berbagi, ia terus menyalakan pelita kecil yang bisa menerangi dunia anak-anak di seluruh penjuru negeri.